Jumat, 04 Mei 2012

Analisis Sensitivitas dan Analisis Titik Impas


Analisis Sensitivitas

Seperti dijelaskan di atas selain dapat digunakan untuk menguji kebenaran hasil
optimal Primal/Simplexnya, analisis sensitifitas sangat bermanfaat untuk menghindari
pengulangan perhitungan dari awal, apabila terjadi perubahan-perubahan pada
masalah LP simplex.
Pengecekan atau pengujian hasil optimal Primal/simplex dapat dilakukan dengan
memanfaatkan beberapa nilai pada tabel simplex optimalnya, khususnya nilai-nilai
yang berada di bawah variabel dasar, kecuali di baris tujuan (Z). Perhatikan lagi tabel
optimal simplex yang sudah diperoleh sebelumnya :
X1 X2 X3 X4 X5 NK
Z 0 0 0 5/6 1/2 27,5
X3 0 0 1 5/9 -1/3 6 1/3
X2 0 1 0 1/3 0 5
X1 1 0 0 - 5/18 1/6 5/6
Dari tabel di atas, nilai-nilai yang dimaksud adalah :
1 5/9 -1/3
0 1/3 0
0 -5/18 1/6 à dan ini semua merupakan sebuah matrik.
Matrik inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk berbagai keperluan di atas. Selanjutnya
untuk memanfaatkan matrik tersebut, langkah-langkahnya adalah :
Pengujian/pembuktian pertama
Langkah 1
Menentukan koefisien-koefisien pada fungsi tujuan Primal/simplex yang berhubungan
dengan variabel dasar iterasi yang bersangkutan. Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa
urutan variabel yang dimaksud adalah X2, dan X1. Sementara itu fungsi tujuan
Primal/simplex-nya adalah Z = 3X1 + 5X2, sehingga koefisien yang dimaksud adalah 5
dan 3.
Langkah 2
Meng-kalikan nilai koefisien tersebut dengan matrik 3x3 di atas, dan perhitungan adalah :
1 5/9 -1/3
(0, 5, 3) 0 1/3 0 =
0 -5/18 1/6


( 0x1 + 5x0 + 3x0; 0x5/9 + 5x1/3 + 3x-5/18; 0x.1/3 + 5x0 + 3x1/6) = (0, 5/6, 1/2 )
(0, 5/6, 1/2 ) à hasil ini tidak lain adalah nilai yang ada di bawah variabel dasar X3, X4,
X5 pada bari Z tabel optimal Primal/simplex di atas, dan yang sebelumnya telah
dijelaskan merupakan nilai-nilai yang mununjukkan tabahan keuntungan yang
diakibatkan oleh penambahan kapasitas sebesar 1 unit.
Dengan hasil ini dapat dikatakan bahwa nilai-nilai tersebut adalah benar dan berarti pula
manfaat dari nilai-nilai tersebut juga benar pula dan dapat dipercaya.
Pengujian/pembuktian pertama
Langkah 1
Menentukan nilai kanan dari setiap batasan yang ada dalam fungsi batasan
Primal/simplex-nya. Dari contoh kasus yang ada, nilai yang dimaksud adalah 8, 15, dan
30.
Langkah 2
Meng-kalikan nilai yang telah ditentukan tersebut dengan matrix di atas, dan
perhitungannya adalah :
1 5/9 -1/3 8
0 1/3 0 15 =
0 -5/18 1/6 30
1x8 + 5/9x15 + -1/3x30 6 1/3
0x8 + 1/3x15 + 0x30 = 5 à X2
0x8 + -5/18x15 + 1/6x30 5/6 à X1
Perhatikan hasil di atas ! Hasil tersebut tidak lain adalah nilai pada kolom NK tabel
optimal Primal/simplex-nya. Dengan demikian memang terbukti bahwa nilai yang
dihasilkan oleh tabel simplex adalah benar dan dapat dipercaya.
Dengan hasil di atas, dapat disimpulkan bahwa matrik 3x3 yang diperoleh dari nilai-nilai
dalam tabel Primal/simplex optimal dapat digunakan untuk memperoleh nilai optimal
produksi yang harus dilakukan (X1= 5/6 dan X2 = 5 ).
Dengan demikian apabila terjadi perubahan pada nilai kanan batasan (misalkan kapasitas
mesin B dinaikkan dari 15 jam menjadi 16 jam dan menurut penjelasan di atas



Contoh 1:
Dari 3  buah  pelabuhan A1, A2 dan A3 terdapat  semen sebanyak masing-masing 120 ton,
170 ton dan  160  ton. Semen tersebut akan diangkut ke kota T1 , T2  dan  T3   yang
masing-masing mempunyai daya tampung 150 ton, 210 ton dan 90 ton. Biaya pengiriman dari
pelabuhan A1 ke kota T1 , T2 dan T3 masing-masing adalah  50,  100  dan 100 (dalam ribuan
rupiah/ton). Biaya pengiriman dari pelabuhan A2 ke kota T1 , T2 dan T3 adalah 200, 300 dan
200, sedangkan biaya pengiriman dari pelabuhan A3 ke kota T1 , T2 dan T3  adalah  100, 200
dan 300.
Tentukan :
a). Tabel Transportasi ?
b). Model Transportasi ?
5). Penyelesaian Permasalahan Transportasi
 Untuk menyelesaikan persoalan transportasi, harus  dilakukan langkah-langkah
sebagai berikut :
1.   Menentukan Solusi Fisibel Basis Awal.
2. Menentukan  entering variable dari variabel-variabel nonbasis. Bila semua variabel
sudah memenuhi kondisi optimal, STOP. Bila belum lanjutkan ke langkah 3.
3. Tentukan leaving variable diantara variabel-variabel basis yang ada, kemudian hitung
solusi yang ada. Kembali ke langkah 2.
 Untuk menentukan  Solusi  Fisibel  Basis  Awal  terdapat  3  metode yang dapat
digunakan, yaitu :
1. Metode Pojok Kiri Atas Pojok Kanan Bawah / Metode  Pojok Barat Laut / North West
Corner.
2. Metode Ongkos (Baris / Kolom) Terkecil (Least Cost).
3. Metode Pendekatan Vogel (Vogel's Approximation  Method's / VAM).
 Untuk mencari Jawab Optimal terdapat 2  metode  yang  dapat digunakan, yaitu :
1. Metode Batu Loncatan (Stepping Stone).
2. Metode Faktor Pengali (Multiplier) / Metode MODI (Modified Distribution)





 Analisis Titik Impas



Analisis Break Even Poin (Titik Impas)
Break Even Point  (BEP) dapat diartikan sebagai suatu titik atau keadaan dimana
perusahaan di dalam operasinya tidak  memperoleh keuntungan dan tidak menderita
kerugian. Dengan kata lain, pada keadaan itu keuntungan atau kerugian sama dengan nol.
Hal tersebut dapat terjadi bila perusahaan dalam operasinya menggunakan biaya tetap,
dan volume penjualan hanya cukup untuk menutup biaya tetap dan biaya variabel.
Apabila penjualan hanya cukup untuk menutup biaya variabel dan sebagian biaya tetap,
maka perusahaan menderita kerugian. Dan sebaliknya akan memperoleh memperoleh
keuntungan, bila penjualan melebihi biaya  variabel dan biaya tetap yang harus di
keluarkan.
2. Manfaat Analisis Break Even (Titik Impas)
Analisis Break even secara umum dapat  memberikan informasi kepada pimpinan,
bagaimana pola hubungan antara volume penjualan, cost/biaya, dan tingkat keuntungan
yang akan diperoleh pada level penjualan tertentu. Analisis break even dapat membantu
pimpinan dalm mengambil keputusan mengenaihal-hal sebagai berikut:
a. Jumlah penjualan minimalyang harus  dipertahankanagar perusahaan tidak
mengalami kerugian.
b. Jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh keuntungan tertentu.
c. Seberapa jauhkah berkurangnya penjualan agar perusahaan tidak menderita rugi.
d. Untuk mengetahui bagaimana efek perubahan harga jual, biaya dan volume
penjualan terhadap keuntungan yang diperoleh.
3. Jenis Biaya Berdasarkan Break Even (Titik Impas).
Biaya yang dikeluarkan perusahaan dapat dibedakan sebagai berikut:
1. Variabel Cost (biaya Variabel)
Variabel cost  merupakan jenis biaya yang selalu berubah sesuai dengan
perubahan volume penjualan, dimana  perubahannya tercermin dalam biaya
variabel total. Dalam pengertian ini biaya variabel dapat dihitung berdasarkan
persentase tertentu dari penjualan, atau variabel cost per unit dikalikan dengan
penjualan dalam unit.
2. Fixed Cost (biaya tetap)
Fixed cost merupakan jenis biaya yang selalu  tetap dan tidak terpengaruh oleh
volume penjualan melainkan dihubungkan dengan waktu(function of time)
sehingga jenis biaya ini akan konstan selama periode tertentu. Contoh biaya sewa,
depresiasi, bunga. Berproduksi atau tidaknya perusahaan biaya ini tetap
dikeluarkan.
3. Semi Varibel Cost
Semi  variabel cost merupakan jenis biaya yang sebagian variabel dan sebagian
tetap, yang kadang-kadang disebut dengan semi fixed cost. Biaya yang tergolong
jenis ini misalnya:  Sales expense atau komisi bagi salesman dimana komisi bagi


salesman ini tetap unutk range atau volume tertentu, dan naik pada level yang
lebih tinggi.
4. Menentukan Break Even Point (BEP) / Titik Impas
• Mathematical Approach
BEP dapat ditentukan atau dihitung berdasarkan formula tertentu, yaitu:
     
BEP = Fixed Cost / (harga perunit – varibel cost perunit) (rumus 1)
   
   Fixed Cost
BEP =                                                          = Rp.........(rumus 2)
   Sales price/unit
1 –  variabel cost/unit
Formulasi break even point yang dikembangkan:
Break even point adalah titik dimana perusahaan belum memperoleh keuntungan tetapi
juga tidak dalam kondisi rugi, maka Break Even Point dapat kita formulasikan secara
sederhana sebagai berikut:
BEP  ->  TR = TC
TR = Total Revenue
 TC = Total Cost
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait dengan Sales, Cost, Volume, Profit
termasuk waktunya, kita coba kembangkan formula sederhana di atas sehingga menjadi
lebih flexible dan bisa beradaptasi dengan situasi yang  berbeda-beda, yaitu dengan
membentuk persamaan linear sederhana seperti dibawah ini:
TR = TC
TR – TC = 0
Karena TR adalah untuk “Total Revenue” maka TR dapat kita turunkan menjadi :
TR = Unit Price x Qty
Sedangkan TC stand for “Total Cost”, yang mana kita semua tahu bahwa dalam Cost
Accounting, cost itu ada 2 macamnya, yaitu: “Variable Cost” dan “Fixed Cost”, maka
turunan dari TC adalah:
TC = Variable Cost + Fixed Cost
Dari formula di atas kita turunkan lagi menjadi:
TC = [Qty x Unit Variable Cost] + Fixed Cost
Semua elemen yang ada sudah habis diturunkan, selanjutnya membuat persamaan linear
secara penuh untuk kondisi “Break Even Point”:
TR - TC = 0
[Qty x Unit Price] - [(Qty x Unit VC) + Fixed Cost] = 0, atau[Qty x Unit Price] - [Qty x Unit VC] - Fixed Cost = 0

 contoh
   Diketahui biaya variabel/unit untuk membuat bika padang adalah Rp 1.500, total biaya tetap adalah Rp 500.000 Harga sebuah bika dipasaran adalah: Rp 2500. Berapa buah bika yang harus dijual oleh pak Tio agar memperoleh laba setelah pajak sebesar Rp360.000 (asumsi: tarif pajak = 10%

jawab:

Diketahui:
P = Rp 2.500;  V = Rp 1.500;  TFC = Rp 500.000;
EAT = Rp 360.000.
  EAT     = (1 – T) EBT
Rp 360.000 = ( 1 – 10%) EBT
  EBT     =  Rp 360.000 / 90%
                                EBT     =   Rp 400.000
                                     Rp 500.000  + Rp 400.000         
       Q =  --------------------------- --------  =  900 buah
                    Rp 2.500 – Rp 1.500

      Total penjualan = 900 x Rp 2500
                                   = Rp 2.250.000

Sumber :http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/kursus_financial_analysis/BEP.pdf
             http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&sqi=2&ved=0CFoQFjAA&url=http%3A%2F%2Fwww.ibk.trisakti.ac.id%2Fibk%2Fsites%2Fdefault%2Ffiles%2FANALISIS%2520TITIK%2520IMPAS.ppt&ei=z9WjT7jCHsWqrAe0vNnrBQ&usg=AFQjCNER-iMEj_Z2ndMeU1oQ0cXp7n5A6Q&sig2=F1mlHs6uh1XMes6RVzWU-w


Selasa, 13 Maret 2012

DEPRESIAS

Asalamualaikum warahmatulah wabarokatuh


Alhmdlllah pada postingan saya kali ini,saya akan mengulas desprisiasi.


1. Apakah despresiasi itu?
    Depresiasi atau penyusutan dalam akuntansi adalah alokasi sistematis jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aset selama umur manfaatnya.[1]. Penerapan depresiasi akan memengaruhi laporan keuangan, termasuk penghasilan kena pajak suatu perusahaan.
Metode yang paling mudah dan paling sering digunakan untuk menghitung penyusutan adalah metode penyusutan garis lurus (straight-line depreciation). Tapi selain itu, ada pula metode penghitungan lain yang bisa juga digunakan, seperti metode penyusutan dipercepat, penyusutan jumlah angka tahun, dan saldo menurun ganda.
Depresiasi adalah penurunan dalam nilai fisik properti seiring dengan waktu dan penggunaannya. Dalam konsep akuntansi, depresiasi adalah pemotongan tahunan terhadap pendapatan sebelum pajak sehingga pengaruh waktu dan penggunaan atas nilai aset dapat terwakili dalam laporan keuangan suatu perusahaan. Depresiasi adalah biaya non-kas yang berpengaruh terhadap pajak pendapatan. Properti yang dapat didepresiasi harus memenuhi ketentuan berikut:
1. Harus digunakan dalam usaha atau dipertahankan untuk menghasilkan pendapatan.
2. Harus mempunyai umur manfaat tertentu, dan umurnya harus lebih lama dari setahun.
3. Merupakan sesuatu yang digunakan sampai habis, mengalami peluruhan/ kehancuran, usang, atau mengalami pengurangan nilai dari nilai asalnya.
4. Bukan inventaris, persediaan atau stok penjualan, atau properti investasi.
Properti yang dapat didepresiasi dikelompokkan menjadi:
- nyata (tangible): dapat dilihat atau dipegang. Terdiri dari properti personal (personal property) seperti mesin-mesin, kendaraan, peralatan, furnitur dan item-item yang sejenis; dan properti riil (real property) seperti tanah dan segala sesuatu yang dikeluarkan dari atau tumbuh atau berdiri di atas tanah tersebut.
- tidak nyata (intangible). Properti personal seperti hak cipta, paten atau franchise.
Depresiasi merupakan komponen penting dalam analisis ekonomi teknik, karena:
1. Dapat dipergunakan untuk mengetahui nilai suatu asset sesuai dengan waktu.
2. Dapat dipergunakan untuk mengalokasikan depresiasi (accounting depreciation) nilai asset tersebut. Pengalokasian tersebut dipergunakan untuk menjamin bahwa asset yang telah diinvestasikan dapat diperoleh kembali setelah masa layannya selesai.
3. Dengan depresiasi dapat dipergunakan untuk pengurangan pengenaan pajak dengan jalan bahwa asset yang diinvestasikan diperhitungkan sebagai biaya produksi, sehingga hal ini berkaitan dengan pajak.


2.ISTILAH DALAM DEPRESIASI
Beberapa istilah yang sering dipergunakan didalam depresiasi, adalah:
1. Depresiasi adalah penurunan nilai dari suatu asset. Jumlah depresiasiDt selalu dihitung tahunan.
2. Biaya Awal(First Cost atau Unadjusted Basis) adalah biaya pemasangan dari asset termasuk biaya pembelian, pengiriman dan fee pemasangan, dan biaya langsung lainnya yang dapat dideprisiasikan termasuk persiapan asset untuk digunakan. Istilah unadjusted basis atau simple basis, serta simbul B dipergunakan ketika asset masih dalam keadaan baru.
3. Nilai Buku(Book Value) menggambarkan sisa, investasi yang belum terdepresiasi pada buku setelah dikurangi jumlah total biaya depresiasi pada waktu itu. Nilai buku BVt selalu ditentukan pada akhir tahun.
4. Periode Pengembalian(Recovery Period) umur depresiasi, n, dari asset dalam tahun untuk tujuan depresiasi.
5. Nilai Pasar(Market Value) Perkiraan nilai asset yang realistis jika asset tersebut dijual pada pasar bebas.
6. Tingkat Depresiasi (Depreciation Rate atau Recovery Rate) adalah fraksi dari biaya awal yang diambil dengan depresiasi setiap tahun. Tingkat ini adalah dt, mungkin sama setiap tahun yang sering disebut dengan straight-line rate atau berbeda setiap tahun pada periode pengembaliannya.
7. Nilai Sisa (Salvage Value) Perkiraan nilai jual atau nilai pasar pada akhir masa pakai dari asset tersebut. Nilai sisa SV.

3.METODE PERHITUNGAN DEPRESIASI
Metode penghitungan depresiasi ada 4 :
1.Metode Garis Lurus
2.Metode Unit Produksi
3.Metode Saldo Menurun Ganda
4.Metode Jumlah Angka Tahun


A.METODE GARIS LURUS

Dalam metode garis lurus maka nilai terdepresi / nilai yang didepresiasikan dari sebuah aktiva dibagi rata sepanjang taksiran umur manfaat aktiva tersebut.
Depresiasi=( Nilai Aktiva – Residu ) / Taksiran Umur Manfaat


B.METODE UNIT PRODUKSI

Dalam metode ini nilai depresiasi tergantung kepada banyaknya produksi yang sudah dihasilkan oleh aktiva tersebut ( biasanya berupa mesin produksi ). Semakin banyak produksi yang dihasilkan oleh mesin tersebut maka akan semakin banyak pula depresiasinya.
Depresiasi =( Produksi yang dihasilkan / Taksiran Kemampuan Berproduksi ) x Nilai Terdepresi


3.METODE SALDO MENURUN GANDA

Metode ini tidak memperhitungkan adanya nilai sisa / residu. Depresiasi tiap periode menggunakan prosentasi yang sama akan tetapi menghasilkan nilai yang berbeda karena nilai depresiasi pertama mengurangi nilai aktiva pada periode kedua dan seterusnya. Artinya nilai aktiva setiap periode selalu berbeda karena nilai aktiva menurun.
Prosentasi Depresiasi =( 100% / taksiran umur manfaat )x2
Depresiasi Periode 1= Prosentase Depresiasi xNilai Aktiva Periode 1
DEpresiasi Periode 2 =Prosentase Depresiasi x Nilai Aktiva Periode2. Dimana nilai aktiva periode 2 adalah nilai aktiva awal dikurangi nilai depresiasi periode 1.

3.METODE JUMLAH ANGKA TAHUN

Dalam metode ini depresiasi pada periode pertama jumlahnya paling besar dan dan pada periode terakhir depresiasinya paling kecil. Jadi depresiasi setiap periode berkurang sesuai dengan jumlah angka tahun taksiran umur manfaatnya. Jika taksiran umur manfaat n tahun maka cara menghitungnya adalah
S = n(n+1)/2
Depresiasi tahun 1 =( n / S ) x Nilai Terdepresi
Depresiasi tahun 2=( ( n-1 )/ S ) x Nilai Terdepresi
Depresiasi tahun 3=( ( n-2 ) / S ) x Nilai Terdepresi
Seterusnya sampai habis taksiran umur manfaatnya.


Contoh:
Metode depresiasi
1.     metode garis lurus (straight line method)
berdasarkan metode ini bagian yang sama dari harga perolehan aktiva (diatas nilai sisanya) dialokasikan ketiap periode yang menggunakannya. Biaya depresiasi perperiode dinyatakan sebagai :
harga perolehan – nilai sisa
   taksiran umur manfaat
contoh
Sebuah truk dibeli oleh PT Bromo pada tgl 1 Januari 19x1, harga beli Rp. 12.000.000, biaya perbaikan Rp. 1.000.000 taksiran nilai residu Rp. 1.000.000, taksiran masa manfaat 5 tahun,  tentukan depresiasi
biaya depresiasi = 13.000.000 – 1.000.000 / 5 : 2.400.000
table depresiasi
Tahun
Jml terdepresiasi
Tariff
Biaya depresiasi
Akumulasi depresiasi
Nilai buku
19x1
19x2
19x3
19x4
19x5
12.000.000
12.000.000
12.000.000
12.000.000
12.000.000
20%
20%
20%
20%
20%
2.400.000
2.400.000
2.400.000
2.400.000
2.400.000
2.400.000
4.800.000
7.200.000
9.600.000
12.000.000
10.600.000
8.200.000
5.800.000
3.400.000
1.000.000

Hitunglah
a.     tariff depresiasi
b.     depresiasi pertahun
c.      nilai buku setelah 5 tahun
dari suatu aktiva yang berharga Rp. 10.000.000 yang dibeli tanggal 5 Januari. Setelah akhir umur manfaatnya selama 10 tahun nilai sisa Rp. 2.000.000.
a.     tariff depresiasi : 100% / umur taksiran
      : 100% / 10 : 10%
b.     depresiasi : (harga perolehan – nilai sisa) x tariff depresiasi/tahun
       : 10.000.000 – 2.000.000 x 0,1
       : 800.000/ tahun

c.      nilai buku
depresiasi selama 5 tahun : 800.000 x 5 = Rp. 4.000.000
nilai buku : harga perolehan – akumulasi depresiasi
                 : 10.000.000 – 4.000.000
                 : 6.000.000
alhmdllah demikianllah postingan dari saya
wasalamualaikum  warahmatullah hiwabarokatu



Sumber:

Senin, 23 Januari 2012

tugas pengantar ekonomi#1

No
jasa
Bulan
Harga
Stabilitas
Analisis
1
Service payung
April 2011-Agustus 2011
Rp 5000 –
 RP 15000
+
Karena  banyak konsumen yang servis payung.
2
Ayam potong
Juli 2011- Agustus 2011
Rp 20000 – Rp35000
+
Karena pada bulan agustus hari raya idul fitri
3
Service pompa air
Februari 2011 – juli 2011
Rp 150..000 –
Rp 250.000

Jasa ini sangat dicari apabils masyarakat mengalami kemarau panjang sehingga mengalami kekeringan 
4
Pakaian
Januari 2011 – Agustus 2011
Rp 50000- Rp 70000
+
Karena para pemudik  pemudik  baju lebaran
5
Cuci steam
Agustus 2010 – januari 2011
Rp 20.000 –
Rp 50.000
+
Saat musim penghujan kendraan anak cepat kotor sehingga pengendara sering menggunakan jasa ini
6
Makanan
April 2011 –Agustus 2011
Rp10000 – RP20000
+
Dikarenakan jumlah I pesanan untuk hari raya meningkat
7
Salon
Agustus 2011 – September 2011
Rp 3.000 –
Rp 7.000
+
Kenaika disebabkan banyaknya jumlah penumpang yang ingin mudik
8



+

9
Penjualan tiket
Agustus 2011 – September 2011
Rp 200.000 –
Rp 1.500.000
+
Kenaika disebabkan banyaknya jumlah penumpang yang ingin mudik
10
Supir bus
Agustus 2011 – September 2011
Rp 20.000 –
Rp 50.000
+
Jasa supir meningkat dikarena kan banyaknya armada bus yang kekurangan supir untuk armada busnya.